Malam ini, tepatnya beberapa belas menit sebelum saya mengetik tulisan ini, saya tertegun mendengar Stormur. Bergidik, pupil mata membesar (yang saya tahu dari Series Sherlock Holmes ini artinya jatuh cinta), tempo degupan jantung tidak stabil (nope, gak sampe berurai air mata kok). Feel so.... ntahlah. Malam saat 10 Mei 2013 terputar kembali oleh proyektor imajiner saya, ah detik perdetik paling menakjubkan untuk saya selama 22 tahun. Tapi ujung-ujungnya selalu antiklimaks sih, saya hanya bisa monolog untuk menumpahkan keantusiasan saya, karena memang saya tidak punya wadah untuk itu. Pernah sekali ketika perasaan ini sedang muncul, waktu itu untuk lagu inní mér syngur vitleysingur, saya bergoosebump ria ditengah keramaian di dalam mobil ketika pulang dari kantor, lagu inní mér syngur vitleysingur melantun dari ujung earphone. Saya sangat merasa antusias kala itu, lalu saya luapkan keteman yang duduk disamping saya, menceritakan dengan kalimat yang mungkin dia tidak mengerti. Saya yakin dia tidak mengerti, saya tahu bukan dari responnya saja tapi memang saya cenderung berbahasa tidak jelas ketika sedang antusias. Sebenarnya saya tahu dia akan merespon sepatah dua patah kalimat yang tidak seharmoni dengan keantusiasan saya, kasarnya gak nyambung, tapi saya harus meluapkannya apapun respon yang saya terima nantinya. Akhirnya saat itu saya mengadu ke @sigurrosID, cukup menenangkan. Saya ingin mengadu ke @sigurrosID setiap kali ini terjadi, tapi kasian adminnya, mungkin dia bakal bosan karena saya seperti sudah terpola. Jadi kali ini saya tuangkan saja ke blog butut ini. Sebenarnya ini juga tidak cukup melegakan, karena hanya keheningan yang meresponnya. Pikiran saya lebih panjang dari tulisan ini. Ah sudahlah
Kamis, 06 Februari 2014
Jadi begini, malam ini ntah untuk keberapa kalinya merasa cinta banget Sigur Ros. Sebenarnya, perasaan ini selalu ada, tapi ada dimasa dimana perasaan itu benar-benar memuncak, duh bagaimana mengkalimatkannya ya? Mungkin yang suka Sigur Ros bisa ngerti ke goosebump-an ini. Biasanya goosebump terjadi pada saat pertama kali mendengar/melihat sesuatu, untuk Sigur Ros tidak. Saya sudah mendengar semua lagunya, tapi kadang (seperti saat ini) goosebump ini terjadi lagi, perasaan yang sama ketika sama mendengar Sigur Ros pertama kali. Aneh iya, berlebihan mungkin. Tapi begitulah adanya.
Malam ini, tepatnya beberapa belas menit sebelum saya mengetik tulisan ini, saya tertegun mendengar Stormur. Bergidik, pupil mata membesar (yang saya tahu dari Series Sherlock Holmes ini artinya jatuh cinta), tempo degupan jantung tidak stabil (nope, gak sampe berurai air mata kok). Feel so.... ntahlah. Malam saat 10 Mei 2013 terputar kembali oleh proyektor imajiner saya, ah detik perdetik paling menakjubkan untuk saya selama 22 tahun. Tapi ujung-ujungnya selalu antiklimaks sih, saya hanya bisa monolog untuk menumpahkan keantusiasan saya, karena memang saya tidak punya wadah untuk itu. Pernah sekali ketika perasaan ini sedang muncul, waktu itu untuk lagu inní mér syngur vitleysingur, saya bergoosebump ria ditengah keramaian di dalam mobil ketika pulang dari kantor, lagu inní mér syngur vitleysingur melantun dari ujung earphone. Saya sangat merasa antusias kala itu, lalu saya luapkan keteman yang duduk disamping saya, menceritakan dengan kalimat yang mungkin dia tidak mengerti. Saya yakin dia tidak mengerti, saya tahu bukan dari responnya saja tapi memang saya cenderung berbahasa tidak jelas ketika sedang antusias. Sebenarnya saya tahu dia akan merespon sepatah dua patah kalimat yang tidak seharmoni dengan keantusiasan saya, kasarnya gak nyambung, tapi saya harus meluapkannya apapun respon yang saya terima nantinya. Akhirnya saat itu saya mengadu ke @sigurrosID, cukup menenangkan. Saya ingin mengadu ke @sigurrosID setiap kali ini terjadi, tapi kasian adminnya, mungkin dia bakal bosan karena saya seperti sudah terpola. Jadi kali ini saya tuangkan saja ke blog butut ini. Sebenarnya ini juga tidak cukup melegakan, karena hanya keheningan yang meresponnya. Pikiran saya lebih panjang dari tulisan ini. Ah sudahlah
Malam ini, tepatnya beberapa belas menit sebelum saya mengetik tulisan ini, saya tertegun mendengar Stormur. Bergidik, pupil mata membesar (yang saya tahu dari Series Sherlock Holmes ini artinya jatuh cinta), tempo degupan jantung tidak stabil (nope, gak sampe berurai air mata kok). Feel so.... ntahlah. Malam saat 10 Mei 2013 terputar kembali oleh proyektor imajiner saya, ah detik perdetik paling menakjubkan untuk saya selama 22 tahun. Tapi ujung-ujungnya selalu antiklimaks sih, saya hanya bisa monolog untuk menumpahkan keantusiasan saya, karena memang saya tidak punya wadah untuk itu. Pernah sekali ketika perasaan ini sedang muncul, waktu itu untuk lagu inní mér syngur vitleysingur, saya bergoosebump ria ditengah keramaian di dalam mobil ketika pulang dari kantor, lagu inní mér syngur vitleysingur melantun dari ujung earphone. Saya sangat merasa antusias kala itu, lalu saya luapkan keteman yang duduk disamping saya, menceritakan dengan kalimat yang mungkin dia tidak mengerti. Saya yakin dia tidak mengerti, saya tahu bukan dari responnya saja tapi memang saya cenderung berbahasa tidak jelas ketika sedang antusias. Sebenarnya saya tahu dia akan merespon sepatah dua patah kalimat yang tidak seharmoni dengan keantusiasan saya, kasarnya gak nyambung, tapi saya harus meluapkannya apapun respon yang saya terima nantinya. Akhirnya saat itu saya mengadu ke @sigurrosID, cukup menenangkan. Saya ingin mengadu ke @sigurrosID setiap kali ini terjadi, tapi kasian adminnya, mungkin dia bakal bosan karena saya seperti sudah terpola. Jadi kali ini saya tuangkan saja ke blog butut ini. Sebenarnya ini juga tidak cukup melegakan, karena hanya keheningan yang meresponnya. Pikiran saya lebih panjang dari tulisan ini. Ah sudahlah
Senin, 03 Februari 2014
Untuk mayoritas orang, hujan adalah saat yang tepat untuk tidur. Tapi bagi saya, hujan adalah saat yang pas untuk menikmati musik. Sedu kopi, duduk mengarah jendela, mendengar musik dengan earphone (satu telinga saja, telinga lainnya menyelaraskan musik dengan suara hujan). Suara sumbang ini pun disulap menjadi suara yang bening (setidaknya untuk diri sendiri).
Lebih indah lagi bila ini terjadi pada dini hari, ketika semua orang ditundukan mimpi dalam lelapnya, sedangkan saya sibuk merajai mimpi di tepi jendela.
Meramaikan pikiran dengan khayalan sekenanya, menarik-membuang tokoh tokoh khayalan untuk menciptakan dongeng yang sempurna. Tak jarang saya tertawa terpingkal hanya karena tokoh yang dibenci dibuat sial oleh benak, lalu tiba-tiba terdiam menyadari bahwa itu hanyalah kerjaan pecundang. Tapi, siapa peduli?
Sesekali membuat misi baru dalam pendewasaan, yang bisa ditebak setelah bangun dari tidur akan dilupakan tanpa tersisa.
Saat menyebalkan adalah ketika lamunan tidak menjalin hubungan yang harmoni dengan musik yang sedang melantun.
Atau sebaliknya, mendapatkan sepotong lirik yang membuat saya berhenti bercerita dengan diri sendiri, seperti lirik ini
" Tak ada teman telah terpencar
Namun waktu terus berputar
Peduli apa terjadi
Terus berlari tak terhenti
Untuk raih harapan
Di dalam tangis atau tawa"
Kemudian merapatkan lengan dengan tubuh, menajamkan pikiran untuk mengosongkannya. Hal yang paling tidak pernah berhasil saya kerjakan selama hidup.
Lebih indah lagi bila ini terjadi pada dini hari, ketika semua orang ditundukan mimpi dalam lelapnya, sedangkan saya sibuk merajai mimpi di tepi jendela.
Meramaikan pikiran dengan khayalan sekenanya, menarik-membuang tokoh tokoh khayalan untuk menciptakan dongeng yang sempurna. Tak jarang saya tertawa terpingkal hanya karena tokoh yang dibenci dibuat sial oleh benak, lalu tiba-tiba terdiam menyadari bahwa itu hanyalah kerjaan pecundang. Tapi, siapa peduli?
Sesekali membuat misi baru dalam pendewasaan, yang bisa ditebak setelah bangun dari tidur akan dilupakan tanpa tersisa.
Saat menyebalkan adalah ketika lamunan tidak menjalin hubungan yang harmoni dengan musik yang sedang melantun.
Atau sebaliknya, mendapatkan sepotong lirik yang membuat saya berhenti bercerita dengan diri sendiri, seperti lirik ini
" Tak ada teman telah terpencar
Namun waktu terus berputar
Peduli apa terjadi
Terus berlari tak terhenti
Untuk raih harapan
Di dalam tangis atau tawa"
Kemudian merapatkan lengan dengan tubuh, menajamkan pikiran untuk mengosongkannya. Hal yang paling tidak pernah berhasil saya kerjakan selama hidup.
Selasa, 31 Desember 2013
Tulisan akhir tahun
Sepertinya bukan saya saja yang merasa kalau 2013 terasa cepat, beberapa
hari yang lalu saya juga membaca kalimat bertema serupa pada beberapa akun social
media yang saya ikuti. Apa memang kalimat itu memang kalimat wajib yang setiap
ujung tahun diucapkan oleh orang-orang. Untuk saya tidak, tahun 2012 saya terasa
lama, mungkin juga karena adanya Tugas Akhir yang berakhir dengan Toga Party.
Tugas Akhir yang membuat hari makin hari terasa lama karena sering mengerjakan
hal yang sama day by day (baca: revisi terus-terusan).
Tahun 2013 bukan tidak saya alami dengan biasa saja, mana bisa saya sebut
Konser Sigur Ros dan Pendakian Gunung Pertama kejadian yang biasa saja. Membuka
kembali ingatan tentang 2 kejadian tadi saja sudah menaikan 200% mood saya
(hiperbola).
Tapi kenapa 2013 hanya terasa seperti 120 hari (satu bulan 10 hari) pergi
kemana 245 hari yang lain?
Apa karena ditahun ini akhirnya saya berstatus Single setelah 7 tahun
non-stop memiliki hubungan cinta dengan pria (sebelum 7 tahun, saya dilarang
pacaran karena masih SMP). Sepertinya hal itu tidak terlalu berperan besar pada
hidup saya, mungkin karena saya menikmati segala kesendirian saya.
Tiga tahun sebelum ini saya berada di Rooftop salah satu kostan di Bandung,
kost teman semasa kecil pacar saya saat itu. Saya dan dia berbaring diatas
genteng tanah liat memandang langit berbintang dan berkilat kembang api,
sesekali beradu pandang. Sebelumnya kita menikmati dinner NYE di… salah satu Fast
Food ditengah kota. Sederhana ya. Dua tahun sebelum ini saya bersama 2 orang teman
lain melewati pergantian tahun di parkiran Senayan. Bukan, disana tidak ada
acara special apapun. Kami berada di dalam mobil, mendengarkan radio untuk tahu
apakah tahun sudah berganti atau tidak. Kita bersulang dengan bir cemen ketika quick
count berhenti diangka satu (sebelumnya kita juga bersulang untuk quick count
boongan dari penyiar radio, baru 5 menit sebelum. Gondok, karena sudah saling
bilang permohonan untuk tahun depan. Padahal tahunnya belum berganti). Kenapa
kita ada di parkiran mobil? Sebelumnya kita berminat NYE salah satu café (bukan
Bar) di Kemang. Karena saat itu salah satu teman saya sedang ada masalah dengan
pacarnya, jadilah 2 orang temannya termasuk saya kabur dari café itu,
kemana-mana macet akhirnya ke parkiran, lalu jalan kaki ke salah satu Fast Food
untuk makan, dan membeli bir. 2 tahun baru berturut-turut saya lalu di fast
food yang sama, Mc D. Setahun kemarin, saya merayakan pergantian tahun di rumah
pacar saya saat itu (berbeda dengan sebelumnya) yang ujung-ujungnya juga ke
rooftop untuk melihat kembang api orang lain.
Dan tahun ini, untuk pertama kalinya saya lalui pergantian tahun sendirian.
Tidak benar-benar sendirian juga sih, saya ditemani belasan orang yang saya
tidak kenal di Coffee Shop tempat dimana saya mengetik saat ini. Sendirian
karena pilihan, saya membatalkan opentrip tahun baruan di Pulau Seribu, menolak
untuk diajak mencari keramain NYE di tengah kota, dan membatalkan pajama’s
party di apartment teman saya yang juga sendirian saat tahun baru.
Sekarang mari kita bicara soal resolusi. Pertama, sesuai apa yang Ibu
inginkan pada saya ditahun depan: Untuk lebih meningkat iman, tidak gampang
meninggalkan sholat. Sejujurkan ini resolusi langganan sejak saya masih
mengenal dosa meninggalkan sholat. Mari sama-sama ucapkan “Amin” dalam hati
untuk resolusi untuk saya dari Ibu ini. Thank you ;)
Kedua,..
Entah kenapa menciptakan resolusi
selalu sulit untuk saya, hidup spontanitas sepertinya sudah mendarah daging,
jadi sulit memikirkan mau-jadi-apa-kedepannya.
Ah sudahlah, selamat tahun baru!
*raise the cup of coffee*
Minggu, 13 Oktober 2013
Observasi
Observasi. Kegiatan kesukaan saya
setelah melamun. Langsung saja saya akan memaparkan hasil Observasi Hara Nan
Sia-Sia di suatu Coffee Shop sore ini.
1. Tepat
arah jam 1 dimana saya duduk saat ini ada sepasang sejoli yang sepertinya
sedang mabuk, mabuk apalagi kalau bukan mabuk cinta. Keduanya bukan remaja
tanggung, sekitar umur 25-28 tahun. Sudah setelah jam lebih mereka saling
menatap, kontak mata lepas beberapa kali hanya karena perempuan yang tiba-tiba
bersandar ke bahu Si Pria lalu kembali saling menatap ketika Si Pria kembali
membuka pembicaraan. Keduanya tidak terlihat canggung, malah saya yang terlihat
salah tingkah. Jelas ini menggelikan, bukan karena saya saat ini sedang single
tapi lebih karena disekililing mereka banyak anak-anak kecil. Ada yang
mencuri-curi pandang memperhatikan pasangan sejoli ini sambil memainkan
brownies dengan garpu kecilnya, ada juga yang sengaja berjalan mendekati meja
pasangan sejoli ini, berdiri 30 detik menatap bingung tanpa berkedip, Kids! Dan ada juga wanita tak lagi remaja yang hanya
memainkan otot mata untuk melirik lalu menuangkannya dalam tulisan, itu saya.
Sebenarnya apa
yang sedang terjadi diantar mereka berdua saat ini? Sesekali perempuan
menggeleng, apa si pria meminta sesuatu kepada si wanita seperti.... hmm you
know tapi Si Wanita belum siap, atau kemungkinan yang lain Si Pria sedang
menawar permintaan Si Wanita yang ingin dibelikan perhiasan.
Si Pria: “Tas aja deh”
Si Wanita:
*menggeleng lembut sambil tersenyum*
Si Pria: “Jam
Tangan? Kamu pengen kita punya Jam Couple kan?”
Si Wanita:
*kembali menggeleng dengan tempo yang sama*
Si Pria: “Kamu
kan tahu kita sebentar lagi mau menikah bla bla...”
Oke itu hanya
khayalan saya. Kemungkinan terakhir ya mereka memang tipe pasangan yang anti-mainstream,
cara mengungkapkan rasa sayang dengan saling menghirup CO2 pasangannya.
Akhirnya saya
menghampiri mereka, untuk basa basi permisi memakai stop kontak di dekat meja
mereka untuk charger laptop saya. Mereka acuhkan saya.
2. Korban
saya selanjutnya adalah seorang ibu muda dengan rambut hitam panjang
bergelombang, sesekali menyeka poni belah tengah yang kadang turun menutupi
kiri kanan penglihatannya. Dia menggunakan legging bermotif semarak, cardigan
berwarna pastel berbanding terbalik dengan warna hijau menyala pada tank top
ketatnya. Smooky eyes dan blush on yang terlihat tidak natural ini membuat saya
menjulukinya dengan Tante Gaul. Ia tidak sendirian, ditemani oleh perempuan
kecil 2-3 tahun dan Mbak-nya si anak yang terlihat tidak mau kalah gaul dengan
si majikan. Gaya bicara tante gaul ini tidak tenang, terburu-buru, memerintah
dengan mata yang terus-terusan memperhatikan sekitar dengan mimik antagonis. Si
Mbak diminta untuk menyebutkan apa saja barang yang di belanjakan olehnya.
Si Mbak: Pertama
beli tas..
Si Tante Gaul:
Iya..Charles and Keith
Si Mbak: Terus
baju nyonya
Si Tante Gaul:
Merk apa tadi? Masih ingat gak kamu?
Si Mbak:
Minimal.. untung diskon ya Nyah
Si Tante Gaul:
*melotot*
Saya:
*mendengus*
Jadi kira-kira
seperti itulah percakapan yang berlangsung. Mungkin Si Tante Gaul ini merasa ia
lah bintang di Coffee Shop ini, seakan-akan orang lain peduli dengan apa yang
terjadi pada hidupnya. Sungguh menyedihkan bila perkiraan saya itu simetris
dengan isi otaknya.
Tak lama Sang
Putri Kecil merengek minta pulang karena tidak sabar makan nasi goreng Mang
Kumis. Lalu observasi saya pada mereka pun berakhir.
3. Terakhir,
seorang Ayah muda yang sedang berdiri di
area barista. Mungkin ia salah satu pelanggan di Coffee Shop ini, karena
barista tak canggung mencium rambut putra kecilnya yang ia dudukan di atas meja
kasir. Dugaan saya ia sedang menunggu istrinya selesai berbelanja, tipikal
suami pada umumnya. Ayah dan anak ini duduk di depan saya, Si Ayah membuka cup
lalu mencolek white cream dengan sedotan lalu menyodorkannya ke anak. Si Anak
tersenyum kecut, mungkin karena ia menggigit dark chocolate. Saya beri 100 poin
untuk ayah ini karena tidak membuka gadget ketika sedang bersama anaknya.
Observasi berakhir sampai disini,
karena orang yang dinanti sudah tiba. Bye!
Kamis, 03 Oktober 2013
Membalas Puisi
Ide membalas puisi ini saya dapatkan dari salah seorang teman dekat. Bedanya dia dalam bentuk surat, saya puisi.
Saya mengadopsi puisi dari Yourdan, teman lama yang sedang diradang kerinduan.
***
Rindu dapat pecah.
lalu
maaf mulai bersemi
rindu sedang menepi
dan suara yang mulai meredup oleh lembah-lembah kedamaian
tentang asa yang tak kunjung muncul lagi dari bawah bumi
apa kau semesra dahulu kasih
berteduh dibalik punggung ku yang sudah rapuh
tak sekuat dulu,tulang-tulang sudah jatuh berjatuhan pelan hingga dapat ku rasa iba nya
kau merana dalam lara
sedang lara bercampur benci kau izinkan untuk mengerti
entah siapa yang mampu berjalan tanpa cinta yang bercahaya
tanpa cinta yang mulai mengosong seperti bangkai-bangkai anak panah fortuna
kau bersama doa yang tulus
aku berseteru dengan iba mu yang larut
Kemana perginya kau kasih
sekitarmu memuakkan untuk saat ini
sekitarmu belum mengerti tentang adanya makna
dan kuharap kan kasih
berbaiklah pada jalanmu saat ini
entah mungkin,nanti kita berdekapan dalam rasa yang berbeda
mungkin kita berpeluk dengan jiwa yang sama
Langit yang mengerti.
langit yang mendengar,beri jawab
dan langit
mengharap jalan cerita yang baik
Hingga nanti,
semua baik tanpa dendam yang merana
atau kisah dalam jiwa yang akan hilang.
-Yourdan
***
Langit Mengerti, Tidak Denganmu.
Sayangnya aku jatuh hingga ke perut bumi
Akan ku sambut rindumu bila kau mampu menarikku kembali ke permukaan
Tak kulihat senyummu berhenti mengembang bila bersamanya.
Saat itu pula aku merasa rongga dada tak lagi mampu menompang jantung.
Betapa aku ingin pulang
Meluaskan kembali Sabana yang kita pernah rawat.
Terhenyak pada sorot lembut yang kau ciptakan dari kedua kelopakmu hanya untukku.
Kapan aku bisa kembali bisa membuatmu mengabaikan semesta hanya untuk mendengar deruan nafasku.
Langit mengerti, tidak dengan dirimu.
Baiknya aku layangkan saja harapan itu di langit.
Langit dan Harapan menyatu.
Biarlah mereka berteman, menertawakan atom-atom kerinduan kita yang mengambang.
Molekul yang pernah bersemayam tak akan kembali ada, karena atom-atom enggan saling mengikat.
Aku pun merindumu.
Sesederhana merindukan matahari saat bermalam di Surya Kencana.
-TR
***
Sabtu, 14 September 2013
Pendakian Pertama, Gunung Pangrango 3019mdpl
Dengan bermodal keberanian,
catatan kesehatan yang cukup baik dan hanya Sabtu-Minggu bisa terlepas dari urusan kantor, saya pun memberanikan diri untuk mendaki ke Gunung Pangrango, gunung
yang baru saya tahu namanya dua minggu sebelum hari H.
Pendakian pertama, yang saya
inginkan hanyalah kejutan dari semesta. Saya tidak mencari tahu bagaimana medan
dan pemandangan selama mendaki nanti. Yang saya lakukan adalah mempersiapkan diri. Persiapan diri yang saya maksud adalah
menjauh dari dunia modern, setidaknya dalam 1 minggu sebelum berangkat saya puasa
apapun kegiatan manusia zaman ini, seperti Social Media dan Mall. Tidak
berjalan sempurna karena pekerjaan saya ada di Social Media, ya setidaknya saya
tidak membuka akun pribadi saya. Ibarat tradisi pemutihan menjelang menikah. Saya ingin mendaki dalam keadaan suci. Suci dari segala dunia zaman sekarang yang jauh dari kesadaran tentang alam. Beberapa teman tidak mengerti mengapa saya melakukan ini dan malah mencemooh. Biarlah.
Saya juga tidak berekspektasi apapun dengan pendakian ini. Tidak menghayal sedikit pun tentang apa yang kira-kira terjadi saat pendakian nanti.
Saya juga tidak berekspektasi apapun dengan pendakian ini. Tidak menghayal sedikit pun tentang apa yang kira-kira terjadi saat pendakian nanti.
Perasaan menjelang mendaki
seperti mual yang terjadi di otak. Perasaan itu memuncak ketika pesan dari tour
untuk meminta izin kepada orang tua terlebih dahulu. Hal yang tidak mungkin saya lakukan kepada
Ibu yang selalu mengedepankan kecemasan. Wajar memang bila seorang Ibu melarang
anak perempuannya untuk mendaki gunung. Akhirnya saya memilih untuk berdoa,
untuk tidak terjadi seseuatu yang bisa membuat saya menyesal karena tidak meminta izin
orang tua terlebih dahulu.
Jumat, 6 September 2013, seperti
Jumat malam pada umumnya, macet. Saya sampai ke Depok pukul 20.30, sedangkan
jam 22.00 saya harus berada di Terminal Kampung Rambutan. Salah saya tidak
belajar dari pengalaman, saya selalu menyepelekan urusan packing. Baru saya
lakukan 15 menit sebelum keluar dari kamar. Akhirnya banyak barang yang
seharusnya saya bawa tapi tidak terbawa, dan sebaliknya.
Pukul 21.30 saya sampai ke
Terminal Kampung Rambutan, mengubah alter ego menjadi Tria yang terpaksa acuh
dengan orang baru.
Singkat cerita, saya sampai
sekitar pukul 2 dini hari di Cibodas. Tidak memanfaatkan waktu untuk tidur,
saya malah duduk menyantap kopi bersama bapak-bapak sambil menonton
pertandingan Sepak Bola Belanda.
Pukul 4 pagi, pendakian dimulai.
Seluruh doa saya ucapkan berulang-ulang.
Kecemasan dan kegirangan saya redakan, keberanian saya bulatkan. Masih
gelap, wejangan-wejangan yang saya dengar sebelumnya saya patuhi, saya tidak
sekalipun menyorotkan senter ke kanan dan kiri.
Setengah jam pertama pendakian
nafas saya sudah tersengal-sengal. Bernafas melalui mulut, saya memang belum
bisa menyelaraskan nafas dengan gerakan yang semakin lama semakin menanjak
dengan medan batu-batuan yang tidak tentu tingginya.
Sempat ada monolog penyesalan.
" Mendaki Gunung? Lupa kalau pernah pingsan di kereta dan bis atau ketika Gladiresik Wisuda?”
“Itu beda,
pingsan karena kehabisan nafas bukan karena kecapekan”
“Kehabisan nafas atau
tidak sarapan?”
Saya teringat lagi satu wejangan
untuk tidak melamun sembarangan di hutan.
Ada perasaan malu untuk mengajak
orang disebelah saya untuk istirahat, saya tidak ingin terlihat lemah di mata
orang lain. Terlebih lagi mereka semua rata-rata sudah memiliki pengalaman
mendaki sebelumnya. Saya tidak ingin merepotkan orang lain, perasaan yang
seharusnya tidak ada saat itu. Saya
tertinggal oleh teman setenda saya, lalu berkenalan dan mendaki beriringan dengan
kelompok tenda lain, mereka adalah Surya, Yuda, Firman, Vita dan Lily.
Sampai akhirnya kami singgah
disepetak tempat beralas jembatan batu ditengah hutan untuk menunaikan ibadah
Sholat Subuh. Pengalaman sholat subuh yang mungkin akan saya ceritakan sampai
ke cicit saya. Udara dingin hingga ketulang, suara aliran air yang tenang,
kicauan burung, hembusan angin pada daun-daun dan bintang-bintang yang bertabur
berantakan di langit hitam. Letih dan cemas hilang seketika, perasaan bahagia
yang pernah saya rasakan ketika menonton Konser Sigur Ros terulang kembali.
Bersyukur, sangat bersyukur.
Satu penyesalan dan keberuntungan
yang saya yakinkan saat itu. Menyesal karena memaksa untuk membawa Carrier Bag
yang belum diisi saja sudah terasa berat, terlebih lagi saya punya catatan
buruk untuk kesehatan tulang punggung. Saya berjanji untuk hanya membawa Day
Pack saja untuk pendakian selanjutnya. Merasa beruntung karena menggunakan
celana gunung selutut, sebelumnya saya meragu karena takut kedinginan, tersayat
semak-semak atau dihinggapi lintah. Tadinya ingin menggunakan Skinny Jeans saja.
Untunglah kali ini saya melakukan pilihan yang tepat. Langkah kaki yang makin
lama meninggi pasti akan terasa menyiksa bila dipadukan dengan Skinny Jeans.
Matahari pagi adalah jaket paling
hangat yang saya temui disana.
Senter mulai disimpan, kupluk dan
sarung tangan saya selipkan diantara kantong celana,resleting jaket saya buka
dan syal mulai saya regangkan. Pernapasan saya makin lama, makin teratur. Mata
saya mulai meliar, mencari-cari sesuatu yang sekiranya dapat saya bawa pulang
ceritanya. Penglihatan saya merekam sekeliling, hutan, jurang, batu-batuan
sesekali melihat burung yang mengintip dari kejauhan. Sesekali merogoh kantong
untuk mendapatkan roti untuk sarapan dan handphone untuk memotret dan merekam.
Semakin menanjak, maka semakin sering pula saya dan teman-teman duduk
berselonjor. Hukum pendaki tak tertulis adalah menyapa dan memberi semangat
sesama pendaki, seperti “permisi Mas/Mba” “Duluan ya Mas/Mba”, atau “Yuk yuk
semangat”, hal-hal ramah seperti itu sebenarnya sangat bukan diri saya. Tapi
entah mengapa disana saya merasa tidak kaku melakukannya, semua seperti teman
lama, reuni dengan orang-orang tidak pernah saya temui.
![]() |
| Dari sudut pandang saya yang sedang tergolek ditepi trek karena kelelahan |
![]() |
| Saya ditengah pendakian |
Melangkah lebar untuk naik dataran yang lebih tinggi (bahkan ada yang setinggi lutut) makin sering saya temui selepas pukul 9 pagi. Saya mengurangi gerakan mendongak dan memperbanyak gerakan menunduk. Kenapa? karena ketika mendongak saya akan menyadari jalanan di depan saya semakin menanjak, rasa lelah akan datang sebelum saya mendakinya. Lebih baik saya menunduk dan tidak menyadari bahwa dakian semakian tinggi.
Sampai akhirnya, pemandangan tak
lagi hanya seputar hutan dan jurang, namun aliran air panas yang menciptakan kebulan asap putih. Cukup sulit
mendeskripsikannya tapi akan saya coba: Posisinya ada di tepi jurang, pijakan
hanya cukup untuk satu orang, pijakan ini bukan tanah melainkan batu-batu
sebesar telapak kaki yang dialiri air hangat yang mengalir dari dinding tebing.
Pilihannya adalah bila berpijak pada batu berisiko tergelincir karena licin,
bila berpijak pada air, sepatu akan basah sehingga langkah terasa lebih berat.
Saya pun mulai meniti jalanan itu, tangan kanan menyentuh permukaan gunung,
menggengam akar-akar yang ada, tangan kiri menyentuh kabel yang melintang
membatasi antara jurang dan dataran. Jangan tantang saya untuk berjalan sambil
melihat kebawah. Sesekali saya berpijak pada batu yang salah, batu yang rentan
berubah posisi ketika diinjak dan akhirnya terpaksa saya menenggelamkan kaki
pada air hangat. Titian ini memerlukan waktu setidaknya 5 menit, selama itu
pula suara hati tak henti-hentinya melantunkan doa.
![]() |
| Terlihat dari jauh uap dari muara air panas |
![]() |
| Saya, Yuda dan Vita di pangkal rute titian air panas. Perhatikan daratannya, itu bentuk nyata dari tulisan saya sebelumnya. |
![]() |
| Kandang Badak |
![]() |
| Kandang Badak dan para pendaki yang beristirahat |
Setelah Dzuhur, pendakian sesungguhnya dimulai. Tak lagi berpijak pada bebatuan dan beriringan dengan teman. Jalan setapak dengan pohon-pohon melintang, salah satu teman baru saya yang dipanggil Pocong menamai medan ini dengan ‘Jalan Kacau’. Saya perlu melompati, menunduk bahkan merangkak pada pohon-pohon yang melintang. Saya menyenangi jalanan seperti ini, seperti wahana-wahana hiburan yang kreatif dibuat langsung oleh Sang Pencipta untuk saya tanpa ada tangan manusia. Saya membayangkan diri saya sedang berada di suatu game, setiap saya melewati pohon-pohon itu dengan sempurna saya akan mendapatkan bonus poin atau combo untuk pohon-pohon yang tingkat kesulitannya lebih tinggi. Betapa beruntungnya saya dapat merasakan itu.
![]() |
| Persimpangan Gn Gede Dan Gn Pangrango |
![]() |
| Tanda ini yang menjadi acuan |
![]() |
| Yuda, Lily, Vina, Ipank, Agustina, Jimeng, Pocong, James, Ule, Saya, Lili, Surya |
Makin lama saya tidak lagi berjalan, namun memanjat. Untunglah saya ditemani teman-teman dan green ranger
yang membantu saya memanjat dataran itu. Perlu menarik nafas dalam-dalam
sebelum memanjat dataran setinggi dagu saya. Tanahnya basah, tentu tidak bisa
berpijak pada ujung-ujung tanah ketika memanjat. Pijakan hanya batu atau akar,
bila beruntung pijakan dapat sebesar setengah telapak kaki. Kalau tidak, saya
harus pintar melekatkan telapak kaki pada permukaan yang lembab dan merelakan
pergelangan pangkal tangan sakit karena ditarik oleh teman yang membantu saya. Medan
seperti itu berlangsung hingga menuju puncak, diselingi dengan medan yang
sangat lembab yang sebenarnya adalah tempat air mengalir. Salah satu Green
Ranger saya lupa Mas Widi atau Mas James menamai medan ini dengan “Jalur
selokan”, karena memang seperti selokan. Bila melewati medan ini, betis saya
harus rela kotor karena tanah liat.
Saya mulai sering berhenti untuk
istirahat dengan medan memanjat seperti ini. Pada suatu pemberhentian Mas Widi
berkata “Ini pendakian pertama ya? Hebat loh langsung pilih Gunung Pangrango!” dari
pernyataan itu bisa disimpulkan bahwa medan Gunung Pangrango ini tergolong
level yang tinggi. Dan hebatnya saya menempatkan Gunung Pangrango untuk daftar
pendakian pertama. Menurut Mas Widi, Pangrango medannya lebih susah
dibandingkan Mahameru.
Carrier Bag tentunya makin terasa
lebih berat, untunglah Mas James berbaik hati menawarkan bantuan untuk
membawakan Carrier Bag saya. Langkah saya menjadi lebih lincah untuk mencapai
Puncak Pangrango.
Sampai akhirnya.... Puncak
Pangrango! Saya, Tria Saraswati berusia 21 tahun 9 bulan, berhasil mencapai
puncak Pangrango 3019mdpl! Senyum mengembang tiada henti di pipi ini. Rasa
capek terbayar lunas dengan rasa haru dan bangga.
![]() |
| Puncak Pangrango, 3019mdpl |
![]() |
| Awan-awan dari Puncak Pangrango |
Bukan Puncak Pangrango tempat
peristirahat kita, tapi Mandalawangi. Mandalawangi adalah alun-alun Gunung
Pangrango, disana lebih indah. Dari Puncak Pangrango saya berjalan menurun
sekitar 7-10menit untuk menuju Pangrango. Ketika saya menyadari Mandalawangi
semakin dekat, saya berhenti sejenak untuk memasang earphone dan memutar
lagu Sigur Ros Hoppipolla. Menarik nafas dalam-dalam lalu mengerluarkannya
lewat mulut. Saya sudah siap dengan sejuta kejutan dari Mandalawangi diiringi lagu
Hoppipolla. Langkah per langkah makin terasa ringan menyadari Mandalawangi
hanya tinggal hitungan detik lagi.
Dan. Tepat pada bagian reff
Hoppipolla... Mandalawangi.
Sunset di Mandalawangi.
Hamparan dataran luas dengan
ribuan edelwies dengan langit senja membentang bersama awan yang bergerak lebih
cepat dari yang pernah saya temui seumur hidup. Matahari hangat. Mata tidak
rela berkedip. Mandalawangi berhasil menghisap rasa letih saya dengan
keindahannya. Saya sangat syukur bisa menyaksikan pertunjukan ini. Saya kembali
Individualis, saya mendengar ada yang memanggil namun saya abaikan. Saya ingin
mencumbu Mandalawangi, hanya antara saya dan Mandalawangi.
Seperti rumah
Seperti terlahir kembali
Seperti kualitas hidupku meningkat
Seperti cinta yang terbalas
Seperti hanya aku orang yang
paling beruntung di dunia
***
Tenda dipasang diantara dua pohon yang saya tidak tahu namanya, yang saya tahu ada Edelwies di kiri kanan halaman tenda saya. Lagi-lagi saya di bantu Mas James. Dingin benar-benar diluar dari prediksi saya, menyesel telah mengeluarkan sweater dari carrier bag ketika masih di kostan. Dingin menusuk ketulang, saya sempat berpikir saya bisa saja mati karena kedinginan. Saya dan teman setenda menyalakan api unggu kecil (karena dilarang untuk menyalakan api unggun besar takut mengakibatkan kebakaran hutan). Unggunan api itu tidak terlalu membatu, andai api bisa digenggam.
Jangan tanya indahnya bentangan langit saat itu. Bintangnya lebih dari kata indah.
Saya tidur lebih awal dari rencana yang saya susun, akumulasi dari kurang tidur, letih dan tidak tahan lama-lama diluar tenda. Kerap kali saya terjaga karena kedinginanan, sleeping bag rasanya hanya seperti helaian kain sifon. Akhirnya saya menyerah, pukul lima dini hari saya tidak lagi mencoba melanjutkan tidur. Keluar tenda untuk sholat subuh, lalu kembali menyalakan api untuk menghangatkan diri. Beruntunglah saya pertunjukan bintang saat itu belum usai. Mata saya menguasai seluruh bintang, mata-mata yang lain sedang tertutup di dalam tenda.
Matahari kian menampakkan diri, saya mandi dengan sinar matahari Mandalawangi. Setelah packing dan membungkus tenda saya berjalan menuju pusat Mandalawangi. Dengan berbantal Carrier Bag saya tidur ditengah sana. Mulai mencumbu Mandalawangi kembali. Memuaskan nafsu mata, karena sadar saya tidak mungkin mendapatkan pemandangan seperti ini di Jakarta. Ibarat di komik, mata saya memancar bunga-bunga semanggi berdaun empat serta titik-titik cahaya.
Setelah puas mengabadikan moment-moment bersama teman baru, kami pun mulai turun gunun
g. Perjalanan menurun juga tidak kalah seru, permukaan yang sebelumnya saya tempuh dengan cara memanjat kini dilakukan dengan merosot. Pantat terseret-tersendat di tanah-tanah lembab. Saya juga sempat singgah di suatu pos untuk merendamkan kaki di aliran air hangat.
Waktu tempuh turun gunung lebih cepat dari prediksi green ranger. Mereka memperkirakan kami semua akan turun jam 8 malam, namun kenyataannya jam 5 sore kami sudah sampai di Cibodas.
Dan kemudian masing-masing kembali ke peraduannya, berpisah.
Sebuah pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Memberi banyak pelajaran dan mengingatkan saya untuk tidak henti bersyukur kepada Sang Pencipta. Salah satunya dengan keberadaan matahari, kini saya tidak lagi mengeluh tentang panasnya Jakarta, karena pernah mengalami suatu kondisi dimana saya memohon kepada Tuhan untuk membuka awan agar Matahari dapat menghangatkan saya.
Terima kasih atas perjalanan spiritual ini, Tuhan :)
![]() |
| Mandalawangi |
![]() |
| Hamparan Edelwies di Mandalawangi |
![]() |
| Matahari tenggelam di Mandalawangi |
![]() |
| Saya dikelilingi Edelwies |
Tenda dipasang diantara dua pohon yang saya tidak tahu namanya, yang saya tahu ada Edelwies di kiri kanan halaman tenda saya. Lagi-lagi saya di bantu Mas James. Dingin benar-benar diluar dari prediksi saya, menyesel telah mengeluarkan sweater dari carrier bag ketika masih di kostan. Dingin menusuk ketulang, saya sempat berpikir saya bisa saja mati karena kedinginan. Saya dan teman setenda menyalakan api unggu kecil (karena dilarang untuk menyalakan api unggun besar takut mengakibatkan kebakaran hutan). Unggunan api itu tidak terlalu membatu, andai api bisa digenggam.
Jangan tanya indahnya bentangan langit saat itu. Bintangnya lebih dari kata indah.
Saya tidur lebih awal dari rencana yang saya susun, akumulasi dari kurang tidur, letih dan tidak tahan lama-lama diluar tenda. Kerap kali saya terjaga karena kedinginanan, sleeping bag rasanya hanya seperti helaian kain sifon. Akhirnya saya menyerah, pukul lima dini hari saya tidak lagi mencoba melanjutkan tidur. Keluar tenda untuk sholat subuh, lalu kembali menyalakan api untuk menghangatkan diri. Beruntunglah saya pertunjukan bintang saat itu belum usai. Mata saya menguasai seluruh bintang, mata-mata yang lain sedang tertutup di dalam tenda.
Matahari kian menampakkan diri, saya mandi dengan sinar matahari Mandalawangi. Setelah packing dan membungkus tenda saya berjalan menuju pusat Mandalawangi. Dengan berbantal Carrier Bag saya tidur ditengah sana. Mulai mencumbu Mandalawangi kembali. Memuaskan nafsu mata, karena sadar saya tidak mungkin mendapatkan pemandangan seperti ini di Jakarta. Ibarat di komik, mata saya memancar bunga-bunga semanggi berdaun empat serta titik-titik cahaya.
![]() |
| Catur, Firman, Saya, Surya dan Yuda |
![]() |
| Saya dan Yuda |
![]() |
| Lily dan Saya |
![]() |
| Firman dan Saya |
![]() |
| Ule, Mega dan Saya |
![]() |
| Mas Widi, Lily, Saya dan Mas James |
![]() |
| Semua |
![]() |
| Saya dengan Vrksasana Pose di Mandalawangi |
Setelah puas mengabadikan moment-moment bersama teman baru, kami pun mulai turun gunun
g. Perjalanan menurun juga tidak kalah seru, permukaan yang sebelumnya saya tempuh dengan cara memanjat kini dilakukan dengan merosot. Pantat terseret-tersendat di tanah-tanah lembab. Saya juga sempat singgah di suatu pos untuk merendamkan kaki di aliran air hangat.
Waktu tempuh turun gunung lebih cepat dari prediksi green ranger. Mereka memperkirakan kami semua akan turun jam 8 malam, namun kenyataannya jam 5 sore kami sudah sampai di Cibodas.
Dan kemudian masing-masing kembali ke peraduannya, berpisah.
Sebuah pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Memberi banyak pelajaran dan mengingatkan saya untuk tidak henti bersyukur kepada Sang Pencipta. Salah satunya dengan keberadaan matahari, kini saya tidak lagi mengeluh tentang panasnya Jakarta, karena pernah mengalami suatu kondisi dimana saya memohon kepada Tuhan untuk membuka awan agar Matahari dapat menghangatkan saya.
Terima kasih atas perjalanan spiritual ini, Tuhan :)
Jumat, 06 September 2013
00.43 am. 6 September 2013
Debar ini tak kunjung reda. Tak sabar, cemas, gugup terkacau dalam satu wadah. Aku merasainya sekarang, tidak enak. Raga merugi, seharusnya waktu yang terpakai untuk melamun ini lebih elok diluangkan untuk menabung energi.
Mandalawangi, belum berkenalan denganmu saja, Kau telah dengan sempurna membuatkan kesulitan untuk terlelap. Memikirkanmu, memikirkan kita. Memikirkan pengalaman pertama yang entah apa akhirnya nanti.
Jumat, 09 Agustus 2013
Catatan Anak Lintas Sumatra Kemarin Sore
Lintas Sumatra
Sebagian jalanannya tidak halus, kasar namun tak berlubang. Seperti jalanan yang dulunya retak, lalu diperbaiki seadanya. Tidak apa, setidaknya ini menghasilkan getar-getar anti-tidur.
Penerangan hanya bisa didapat dari kiri-kanan rumah yang berpenghuni. Lampu jalan? atau setidaknya ada benda yang glow in the dark, Sejauh ini saya tidak melihatnya, bila ketemu hutan yaaaa berarti gelap. Apa dipulau Jawa juga seperti ini? #seriusnanya
Setidaknya sepanjang saya terjaga, belum ada kecelakaan.
Rata-rata bus berkecepatan 110-120km/jam. Jadi, jumlah kami disalip oleh bus berbanding lurus dengan saya yang menahan nafas sambil berdoa dan ketakutan.
Kabut
03.53am
Antah berantah (enggan bertanya dengan Ayah)
Kami menemukan City Light lengkap dengan langit bergradasi biru. Melihat kota Padang dari ketinggian. Walau jalanan rusak dan sama sekali tidak ada penerangan selain dari mobil kami sendiri. Menikmati keindahan dengan kecemasan, itulah yang saya rasakan saat ini.
Dimanakah Harimau Sumatra berada?
Selasa, 06 Agustus 2013
Starry Night
Bukan playlist, game, nugget + sosis, atau tempat duduk yang nyaman. Tapi mega yang bertabur bintang. Lebih indah 1000 kali lipat dari lukisan Vincent Van Gogh "Starry Night".
Bintang-bintang ini tak perlu membayar sakit leher yang saya derita akibat terlalu lama mendongak. Tetaplah bermain di atas sana. Bermainlah seakaan pagi tak akan pernah datang.
Tak akan pernah tega benak ini berkata "basi" ketika bintang-bintang memamerkan diri untuk saya elu-elukan.
Perjalanan menuju kota sebelah dengan jarak tempuh yang tergolong jauh ini terasa singkat karenanya.
Salam indah :)
Minggu, 23 Juni 2013
Orgasm Without Sex, High Without Drugs. Sigur Ros!
Anybody catch the mega epic Sigur Ros show last nite? I DID !!
Bagian mana yang harus saya bahas terlebih dahulu untuk membahas Konser Sigur Ros tadi malam? Terlalu banyak detail yang ingin saya bahas. Everything is perfect!
Tadinya saya akan mengabadikan setiap momen perjalanan saya dari pra sampai paska konser. Nyatanya tidak, saya tidak merelakan diri saya untuk merekam atau sekedar memotret ketika konser berlangsung. Kamera digital yang saya bawa hanya dipergunakan sampai sebelum lampu Istora meremang.
![]() |
| Saya sampai di Istora Senayan jam 5 sore |
![]() |
| Kertas ini akan saya sulap dengan 8 tiket Sigur Ros |
![]() |
| 8 tiket Sigur Ros sudah ditangan setelah kurang dari satu jam antri |
![]() |
| Pose dulu dengan tiket Sigur Ros. Saya masih menggunakan batik, karena langsung dari kantor. Terlihat dari garis senyum yang mengartikan bahwa saya benar-benar gugup akan konser ini. |
![]() |
| Saya lebih terlihat seperti menyeringai daripada senyum. Gesture tubuh yang kaku. Siapa yang tidak gugup akan menyaksikan Sigur Ros dalam hitungan menit? |
Setelah foto ini, atau tepatnya setelah saya memasuki dimensi lain......
Lampu meremang, panggung mulai memaksa saya untuk tidak berkedip, cahaya-cahaya itu...
Sigur Ros hanya terlihat dalam bentuk silhouette dibalik layar putih yang membentang menutupi panggung. Layar putih memproyeksikan video-video amazing, seperti langit Kutub Utara atau berkelana menuju puncak Himalaya, embrio, dan.......Aurora. Suatu penampakan yang saya (dan jutaan manusia) idam-idamkan. Sigur Ros mewujudkan mimpi saya. Saya lupa saya (hanya) berada di Istora saat itu.
Bergelombang.
Terlalu banyak yang ingin diceritakan, hal-hal indah ada disetiap detik.
Dua jam paling sempurna seumur hidup saya sampai detik ini.
Tulisan ini selesai sampai disini, saya tidak terlalu pintar mengubah feeling menjadi tulisan khusus untuk Sigur Ros. Terlalu sempurna.
(postingan lama)
Langganan:
Postingan (Atom)




























