Selasa, 18 Oktober 2016

chibi ter-pentagram-kan

ini kucing gue namanya Chibi, nama lengkapnya Chibi ngolekngoleksahu, jangan tanya artinya apa. Doski sangat periang sekali. hoby nya buntutin orang rumah kemana-mana. mobilitas gue di rumah kamar-nonton tv-kamarkakak selalu dia buntutin dengan ikhlas, gak pake ngeong. suka banget ngendus-ngendus jari kaki ataupun jadi tangan. setiap bangun tidur hampir selalu ada di muka gue, ampe gue eneg. setiap gue makan pasti dia ikutan nangkring d meja makan atau gak duduk dipangkuan gue nunggu jatah makan dia turun.
pas lebaran Chibi terpaksa ditinggal pulkam, balik pulkam Chibi yang udah di bahas sepanjang perjalanan pulang gak ketemu batang ekornya di rumah. ampe besok sore kita nemuin chibi di halaman belakang, dan WTF! Chibi-berkalungkan-symbol-pentagram-oh-gosh. karena kesel ada yang memilki Chibi langsung buru-buru kita gunting itu kalung.
setelah terkalungkan chibi jadi sensitif dan sangat tidak manja lagi, digendong makan nyakar-nyakar, gak pernah mau maen ke kamar gue lagi, gak pernah buntutin, gak pernah jilat-jilat lagi. Chibi berubah seakan-akan kalung itu ada roh jahatnya dan tertanam di dalam tubuh Chibi -_-"
begini nih komuk nya Chibi setelah dikalungkan, gak nyantai banget coy. badan kecil aja sok-sok udah jadi kucing dewasa. bandingin sama foto Chibi yang paling atas, sebelum di kalungi, masih ada aura-aura lucu nan ngegemesin.

setelah gue pikir-pikir, ini kalung pentagram apa kalung mita the virgin -________-
Apakah sesuatu yang pertama kali cendurung berjalan buruk. Entah kutukan apa ini, aku merasa sesuatu yang pertama kali untukku berjalan mengacak. semua kata-kata yang sudah dipersiapkan bagai lenyap di genangan lumpur hisap. Dan penyesalan selalu mengajukan diri untuk menjadi teman. Memaksa diri untuk tidak bermimpi menjalani angan.


From Metro Mini 75 with Supersun

AYAH

Terlalu beruntung bagiku memiliki seorang Ayah yang sempurna. Nikmat ini tidak akan pernah mau aku ganti dengan apapun, menggantinya dengan nikmat dapat menguasai Dunia pun aku tak mau.
Diam-diam aku adalah anak sekaligus pengagum rahasianya, tentang pribadi Ayah yang tegas, berbicara seperlunya & selalu berisi, namun tidak menghilangkan darah humorisnya.
Ayah adalah pahlawan ketika aku tidak mengerti soal PR sekolah. Tidak peduli apakah itu pelajaran ilmu sosial, Alam, Matematika, Agama, Seni kaligrafi dan yang lainnya. Ayah selalu punya jawaban disetiap pertanyaanku. Ayah mau menyampingkan lelahnya untuk memecahkan kebosanan kami (ibu, saudara dan aku) dirumah. Mengajak kami mengeliling kota untuk sekedar melihat malam, bermodal snack dan minuman dingin untuk melengkapi obrolan atau 'karaoke' di mobil.
Kata orang mie instan yang dibuat warkop selalu enak daripada buatan sendiri, aku rasa tidak, Ayah lebih menjuarainya. Ayah memang tidak pernah menyampurkan heroin di mie instan yang Ayah masak, tapi kenapa selalu membuatku ketagihan?.
Dan aku selalu terenyuh ketika mendengarkan ayah mengaji disubuh hari dan melantunkan surat pendek ketika menjadi imam kami. Membuat tentram yang mendarah daging walau hanya sesaat.
Tidak cukup kata 'Sempurna' untuk mengungkapkan Ayah. (Lupakan sejenak kalimat "tiada manusia yang sempurna", kata 'sempurna' yang ini hanya ada di kamus ku, dan hanya ku gunakan untuk orangtua ku).
Sempurna yang sederhana.

Semua yang terjadi memang pasti ada alasannya. Termasuk Hari peringatan Anti Korupsi di 9 Desember, Ayahku seorang Dosen Hukum & Pengamat Hukum di Jambi, dan hari ini.
Hari ulang tahun Ayah.

Selamat Ulang Tahun Ayah

Mendadak Reggae!

Awal desember, disatu siang yang membosankan di depok. Saya dan seorang teman (Fika, 20 tahun) mencapai titik kejenuhan luar biasa terhadap kuliah dan depok. Keluar depok terasa berat mengingat hari jumat yang memiliki nickname “macet se-jagat raya” terlebih lagi di lenteng agung. Yang ada malah mati gaya di jalan, dan mendidihlah rasa jenuh. Teman saya yang lain (Rani, 20 tahun) menunggu sang pujangga (Open, 22 tahun) menjemputnya di kamar kost saya. Kamar kost saya yang ukuran hanya 5x5 sering dijadikan ‘rumah singgah’, padahal kondisinya seperti habis mengalami gempa 8,9 Ritcher. Tapi untungnya mereka tidak masalah, atau sebenernya mereka menggerutu dalam hati. Ya walaupun menggerutu di luar hati, bisa dipastikan saya tidak peduli. Menurut saya kamar berantakan memiliki kenyaman tersendiri, dan saya akan menyesal mengetik kalimat barusan ketika saya mulai susah mencari barang (fyi: saya pernah kehilangan rice cooker saya yang ternyata di tumpukan baju dan mendapati pasangan sepatu boots saya di dalam lemari pakaian saya. Anda sudah mulai bisa membayangkannya ?).
Saya dan Fika dengan memanggul rasa bosan dan tidak tahu diri akhirnya ikut mobil Ope dan Rani ke rumah Rani di cibubur. Dari mulai merencakan turun di cibubur junction, turun di tempat makan sekitar (karena masih ada rasa tidak enak merecoki mereka yang akan pacaran dirumah). Akhirnya di tengah perjalanan, Rani memutuskan untuk mau menonton Open ngeband dalam keadaan setengah sakit. Dua orang yang haus akan jalan-jalan pun kegirangan (baca: saya & fika).
Sampai di Kemang jam 9 malam. Dalam hati saya merasa saltum ketika masuk Eastern Promise karena menggunakan baju+jeans bekas dari kuliah. Pas masuk, DANG! Ternyata saya tidak saltum, pengunjung kebanyakan orang asing dan berpenampilan casual seperti saya. Bayangan saya, saya akan menonton livemusic yang biasa saya nikmati di tempat lain. Tapi yang ini beda, musik Reggae. Saya hanya dengar Reggae di dufan dan hanya tau no woman no cry Bob Marley itu pun karena pernah dijadikan jingle iklan sabun. Saya sangat menikmati aliran musik ini, saya melupakan sejenak enaknya lagu underoath, lamb of god, trivium, bullet for my valentine. Saya semakin antusias dan ikut menggoyangkan badan dan sempat mengatakan “I love reggae” kepada Rani yang sudah senior didunia per-reggae-an. Dan selanjutnya saya dan yang lainnya pun jadi sering ngekorin band Javabeat (nama band reggae Open) diberbagai tempat manggung. Faktor lain juga karena ada yang terlibat cinta lokasi (tetep, cinta selalu bersemi seenaknya). Saya pun mulai mendownload album Bob Marley dan menyetelnya hampir setiap hari.
Apakah suatu saat saya akan memutuskan untuk menggimbalkan rambut saya, memakai baju ala-ala pantai, dan……………..mengisap marijuana?

THE BEATLES & JOHN LENNON-YOKO ONO FEVER

-->Sebut saya sebagai wanita yang haus akan ‘belaian telinga’. Tenang saudara-saudara se-blogger.com, maksud saya adalah lagu untuk memanjakan pendengaran saya. Setelah reggae, kini ada The Beatles. Untuk mendukung proses menulis novel (ceileh) saya pun perlu mendalami peran tokoh yang saya ceritakan. Tokoh yang saya maksud adalah Alras seorang lelaki urakan, mahasiswa abadi, dan terobsesi dengan John Lennon. Saya pun mendownload semua album The Beatles, dan selalu mendengarnya sampai menyampingkan fungsi Televisi. Lagu yang paling saya sering putar dari beratus-ratus lagu mereka adalah If I Needed Someone, Nowhere Man, She Said-She Said, Yelow Submarine, Lovely Rita, Strawberry Fields Forever, Birthday, Everybody’s Got Something to Hide Except Me and My Monkey, dan ah rasanya ingin menuliskan semua lagu-lagu mereka. Sebelumnya saya sudah jatuh cinta dengan Here Comes The Sun, Here, There and Everywhere, Yesterday, Twist and Shout, dan Across The Universe.
Selain lagu-lagu The Beatles, saya juga mendownload lagu John Lennon yang banyak tentang Yoko Ono, saya benar-benar terhipnotis dengan lagu Oh My Love nya. Selain itu Imagine, Oh Yoko dan Jealous Guy. Dibeberapa album John Lennon terdapat suara Yoko Ono yang menurut saya….seram. Seperti hantu, terlebih lagi muka Jepangnya yang mengingatkan saya kepada sadako. Saya hanya berani mendengarkan lagu Yoko Ono ketika siang dan itu juga jarang terjadi. Lagu yang seram itu seperti No Bed for Beatle & Song for John dan Amsterdam. Adalagi lagu yang judulnya Two Minutes Silence yang memang lagu durasinya tepat 2 menit dan tidak ada suara sedikit pun. Satu lagi deh, lagu John & Yoko di album Wedding album di lagu ini terdengar suara Yoko Ono yang hanya berkata “John” dan John Lennon hanya “Yoko” secara bersaut-sautan dengan berbagai ekspresi ada yang bahagia, sedih, dan teriak. Lagu ini berdurasi 6.36 menit. Saya merinding, karena benar-benar dapat feel cinta yang begitu kuat antara mereka dari lagu ini. Entah saya yang begitu melankolis dan mengagumi mereka. Khusus album-album John Lennon yang ada Yoko Ono nya saya merasa “apa saya salah download ya?”.
Dan tujuan saya mendalami peran tokoh Alras pun sedikit terlupakan, saya sudah lama tidak melanjutkan menulis buku itu dan menjadi benar-benar terobsesi dengan The Beatles dan John Lennon & Yoko Ono.

23 January 2012

-->
Dan sekarang kepala saya menjadi 2. Bayangkan kalimat itu merupakan kalimat dengan makna yang sesungguhnya. Seperti alien. Atau mengingatkan pada episode ketika badan spongebob dan squitward bersatu. Sounds cool. Umur 20 tahun ini tidak berpengaruh apa-apa. Tidak membuat saya merasa tua. Tidak membuat saya merasa spesial. Tidak membuat saya mulai mencari-cari kerutan diwajah dan 6 tanda penuaan lainnya. Rasanya seperti gelembung sabun yang pecah. Terjadi dan selesai. Sudah 20 tahun dan so what?
Berhubung sedang jauh dari rumah, liburan semester, dan long distance relationhip dengan sangat disayangkan keduapuluhtahunan saya harus diraba sendirian. Tak apa, kaum introvert tidak akan terlalu mempermasalahkan ini. Sadar akan ulang tahun sendirian dikostan, saya pun berniat mengadakan perayaan tentunya dengan diri sendiri. Kue tart yang hanya saya beli di Giant dengan harga 50ribu (maklum tanggal tua) saya pasangkan dengan coca cola. Saya melakukan ini semua lagi-lagi karena teringat nasehat ayah bahwa “Jangan pernah bergantung dengan orang lain”. Siap yah! Tak ada keluarga/teman/pacar bukan berarti saya tidak merayakan ulang tahun saya toh?
15 menit sebelum jam 12, saya mempersiapkan kue tart sambil sesekali melirik ke lapangan Emirates Stadium (Arsenal-Manchester United). Detik-detik menuju 12 teng mood yang sedang melayang-layang melawan gravitasi di luar angkasa tiba-tiba terjun bebas ke inti bumi…………….Jangan tanya kenapa. Saya berusaha untuk mengunci badmood itu ke gudang hati. Lalu menyalakan api pada lilin-lilin sambil menyenandungnya lagu Happy Birthday dengan pelan. Saya meng-mute suara iklan halftime pertandingan dan mengajak the beatles untuk memainkan lagu Birthday-nya. Saya mengabadikan diri dalam smartphone sambil ikut bernyanyi bersama The Beatles. Setelah itu saya meniup lilin dan tersenyum bahagia. Terpaksa sendok saya jadikan pisau kue, lalu sepotong kue tart pun mendarat di lambung. Menyenderkan badan dan meneguk coca cola sambil flashback kemasa kecil yang indah. Seketika energi positif berkembang biak di ulu hati saya. Perasaan bahagia yang sulit dikalimatkan. Sejurus kemudian saya menertawai diri sendiri.
Sampai akhirnya pertandingan Arsenal-MU semakin seru, saya melanjutkan menonton bola. Dan kue ulang tahun pun terabaikan.
Bicara tentang ulang tahun biasanya pasti terselip harapan yang ingin dicapai. Harapan saya………………tidak ada. Manusia macam apa yang tidak punya harapan dalam hidupnya? Ya manusia macam saya. Saya terbiasa hidup santai tidak bervisi dan misi. Rencana biasanya timbul karena spontanitas. Mungkin karena saya tidak suka hidup teratur apalagi diatur. Dan saya nyaman dengan ini.

Selamat ulang tahun orang yang paling saya percaya.
PS: Selain menyiapkan kue ulang tahun sendiri dan memakannya sendiri sempat terlintas dibenak saya untuk membeli kado, membungkusnya dengan rapi, menuliskan kata ucapan selamat ulang tahun. Untung dompet berteriak menyadarkan saya.

Rabu, 19 November 2014

Lamunan pulang kerja



Duduk pada anak tangga di peron 3-4 Stasiun Manggarai. Diiringi lagu melankolis dari Badfinger, Apple of My Eye. Udara lembab beraroma hujan. Keadaan ini memaksaku untuk mengenang. Mengenang siapapun ia yang pernah membuat tidurku tak nyenyak karena mengkhayalkannya.

TK
Dia adalah seorang anak laki-laki dari kelas sebelah. Aku lupa namanya, mungkin Reza. Kita tidak saling mengenal. Aku hanya berinteraksi sekali dengannya, itu pun bukan hal yang manis. Ia memarahiku ketika kita dan teman-teman lainnya sedang bermain ayunan. Aku yang seharusnya menangis malah menyukainya. Ntahlah rasa itu tepatnya dinamai apa. Berhubung hanya dia laki-laki yang bisa aku ingat di masa TK, maka kuanggap ia istimewa. Ia berperawakan bocah nakal dengan rambut keriting kusut dan berpipi tirus.

SD
Kelas 1 caturwulan 1, namanya Robi. Rambutnya coklat terang, tinggi diantara yang lain dan kulitnya sangat putih. Ia pernah menggodaku, ia menghadangku, menghentikan langkahku dengan mengembangkan kedua lengannya. Aku kiri, ia ke kiri, aku ke kanan ia kekanan. Aku ingat ia begitu sambil tersenyum manis lalu memanggilku "Saras". Aku pura-pura marah padanya dan mengancamnya untuk mengadukan "tindak kriminal" ini ke wali kelas. Lalu ia tertawa kecil dan meminta maaf lalu membiarkanku pergi menuju kantin. Tahukah ia bahwa aku selalu menunggunya menggodaku lagi di hari-hari berikutnya. Caturwulan 2 aku pindah kota, aku pun kehilangannya. Aku kerap berharap tiba-tiba ada murid baru di sekolahku dan ternyata dia Robi, khayalan ini aku adopsi dari tayangan di televisi.

Aku mulai memiliki idola, seperti Chester Beninngton dan Y2K (salah satu petarung di WWF Smack Down), ku tulis mereka di diaryku. Aku juga menyukai abang-abang gondrong yang kuanggap mirip Y2K, abang gondrong ini hanya kutemui ketika acara 17an di RT-ku. Aku sering membayangkannya walau sampai sekarang aku tidak tahu namanya siapa.

Kelas 5, aku kembali menyukai teman sebayaku. Aku ingat namanya siapa, namun tak akan kusebut disini karena aku malu bila salah-satu teman SD-ku membaca ini. Dia anak baru, berkulit putih, rambut ‘botum’, berbibir merah dan cenderung hemat bicara . Dia banyak disukai anak perempuan, karena ia memiliki nilai plus yaitu berkulit putih, satu hal yang menempati urutan pertama pada daftar ciri-ciri lelaki ganteng pada masa itu. Aku menyukainya karena saat itu aku berpikir ia mirip Chester Beninngton karena model rambutnya sama, tapi setelah aku pikir-pikir lagi ia lebih mirip Boboho berbadan ramping.

Kelas 6, aku menyukai lelaki lain. Sangat-sangat menyukainya, sampai-sampai aku membuat semacam logo yang bila di perhatikan secara seksama akan terbaca namanya. Logo ini aku pakai di diary-ku, karena aku takut dibaca oleh kakak-kakak ku yang sering mencuri baca diaryku. Sehingga setiap mengucapkan namanya di diaryku kuganti dengan Logo itu. Logo itu juga sering aku tulis di belakang buku tulisku, di meja belajarku dengan menggunakan tipe-x, di jendela yang berdebu, dipahaku dengan menggunakan pulpen (aku suka menggambar apa saja di badanku) dan juga pada lenganku ketika diselimuti sabun mandi. Menulis namanya saja sudah membuatku bahagia. Aku tak pernah ngobrol dengannya, hanya saja aku sering dengan sengaja bertemu pandang (memandangnya terus-terusan dari jauh, menunggu ia menoleh ke aku) lalu ketika ia menoleh ke arahku, ku lemparkan senyum termanisku lalu menoleh ke arah lain seakan temu pandang dan senyum itu hal yang biasa, padahal sukses membuat jantungku seakan loncat dari penompangnya. Oh ya, aku juga sering menelpon rumahnya, namun tidak mengeluarkan sepatah katapun. Aku hanya ingin mendengar suaranya, walau hanya “halo”. Hal yang sering aku khayalkan adalah berada di bangku belakang sepedanya ketika pergi-pulang les.



SMP
Aku mulai berada di usia yang dihiasi dengan trend pacaran. Hal yang tidak pernah aku ikuti semasa SMP. Bukan karena tidak ada pria yang menyukaiku, sudah ada yang menyatakan cinta kepadaku ketika aku kelas 1. Lucunya ia tidak mengatakannya secara langsung, pria itu bernama Ulil, ia bercerita pada temannya yang juga temanku bernama Geri bahwa ia menyukaiku. Lalu Geri menghampiriku yang sedang mengambil piring berisi lontong, Ulil bersembunyi dibelakang tubuh Geri. Geri bilang kepadaku bahwa Ulil menyukaiku dan ingin menjadi pacarku. Aku yang kala itu sedang sibuk dengan lontongku akhirnya berkata “maaf, aku gak mau pacaran” kemudian berlalu menjauhi mereka berdua, mencari tempat untuk menikmati lontong dengan khusyuk. Selain Ulil juga ada pria lain yang menyukaiku, Dia lah yang pertama kali mengirim surat cinta dan memberiku boneka bila di tekan berbunyi “I love you” ketika valentine, namun aku tak menyukainya.

Aku menyukai kakak kelasku, yang lagi-lagi kusukai karena ia (ku anggap) mirip Chester Beninngton. Setiap upacara aku selalu mencarinya dengan ekor mataku.

Kelas 3, aku menyukai teman sekelasku. Aku menyukainya karena ia pendiam, ia duduk di seberangku. Aku ingat, kita pernah belajar bersama sebelum ulangan Fisika.. Aku dan dia duduk di bangku masing-masing, tidak saling berhadapan, kita mengingat-ingat rumus fisika bersama.

SMA

Aku menyukai kakak kelasku, dalam surat yang kutulis ketika ospek (dan diberika kepadanya, tanpa dibubuhi nama pengirim) aku menyarankannya untuk menggunakan kacamata agar terlihat nerd dan mirip Chester Beninngton (lagi-lagi).

Di SMA, aku mulai berpacaran, namun bukan orang yang aku suka. Motivasiku menerima cintanya adalah ingin merasakan pacaran (hal yang belum aku cicipi ketika SMP). Lima minggu berlalu, aku meminta putus dengan alasan “ternyata pacaran itu gak enak”. Kalimat itu terlontar begitu saja, sebenarnya aku ingin putus darinya karena suatu hal yang sepele dan konyol. Ia memberiku puisi, yang salah satu kalimatnya seperti menggambarkan aku dan dia berciuman. Aku jijik. Aku takut hal itu benar-benar terjadi, aku tak mau. Ia menangis di pintu kelas, teman-teman dan beberapa kakak kelas menanyakannya hal itu. Aku hanya diam tidak mengerti apa yang sudah aku lakukan kepadanya. Selang 3 bulan kita kembali menjalin hubungan, aku sudah mulai mengerti tata cara berpacaran walau sedikit canggung seperti menolak cincin yang ia berikan sebagai hadiah ulang tahun dari hasil menabung beberapa minggu. Aku lupa memberikan alasan apa. Menuruku kala itu: memakai cincin samaan dengan pacar adalah sesuatu yang sangat norak. Aku tak mau kakak-kakakku mengolok-olokku.

Aku mulai menikmati ritme berpacaran, untunglah selera musik dan fashion kita sama. Jadi walaupun ia bukan pria yang aku suka, aku tetap nyaman dengannya. Cukup lama aku berpacaran dengannya, 6 tahun.

Kuliah
Aku masih berpacaran dengan pria dia SMA-ku itu. Tapi aku masih seperti Tria yang dulu, menyukai seseorang dan mengkhayalkannya.

Awal kuliah, aku menyukai pria berkaca mata. Aku sudah memperhatikannya ketika masa ospek, kala itu aku belum tahu namanya. Aku memperhatikannya karena dadanya bidang. Ia bukan tipe pria macho, atletis dan kekiniian, sama sekali tidak. Aku tak pernah sekalipun melihatnya tanpa baju, tapi aku tahu dibalik seragam SMA yang tidak pula ketat itu (ospek menggunakan seragam SMA) ada tersimpan dada bidang.  Kebahagianku tak terkira ketika mengetahui bahwa kita satu prodi dan sekelas di semester pertama dan hari pertama kuliah ia duduk disebelahku, terlebih lagi tahu kalau rumahnya dekat dengan rumah om ku yang kala itu aku masih tinggal disana (belum ngekost). Aku mengkhayal kita pulang bareng, tapi tak pernah terjadi. Aku tidak seagresif itu. Cukup lama aku menyukainya. Seperti waktu ketika kecil dulu, aku menulis namanya di tempat-tempat yang tak terduga. Aku menulis namanya di pojok televisiku (aku sudah ngekos), lalu aku lupa menghapusnya dan dibaca oleh salah-satu temanku yang sedang bertandang di kamarku. Aku malu, ketahuan.

Akhir semester akhirnya aku dan pria dari SMA-ku putus. Kita kuliah di kota yang berbeda, hanya bertemu sebulan sekali. Aku tahu ia juga menyukai orang lain, tapi didepannya aku pura-pura tidak tahu. Aku tidak tahu kalau mungkin saja sebenarnya ia pura-pura tidak tahu bahwa aku tahu tentang ia dibelakangku. Aku juga kerap jalan berdua dengan teman kuliahku, tapi bukan orang yang aku sukai. Aku tidak yakin ia tahu tentang ini.

Pria yang aku sukai ketika kelas 6 SD kembali muncul, ia sering menggodaku. Aku sama sekali tidak menyukainya lagi. Menurutku ia terlihat norak sekarang, baik dari gaya berpakaian, topik obrolan dan cara pandang hidup. Kita beberapa kali bertukar cerita, hal yang sangat ingin aku lakukan ketika kelas 6 SD dahulu. Namun terasa hambar dan membosankan ketika itu terjadi ketika kita kuliah.

Kerja
Aku menjalin hubungan cinta baru dengan seorang pria dari kampusku, lagi-lagi bukan termasuk orang yang aku suka. Tidak bertahan lama, hanya 10 bulan.

Pria yang aku suka ketika awal semester kuliah ternyata bekerja di daerah yang sama dengan tempatku bekerja. Kita pun sering berangkat kerja bersama. Hanya aku dan dia dimobilnya. Ingatkan, ketika kuliah aku sering mengkhayal pergi-pulang kampus bersamanya? Hal yang tak pernah terjadi dimasa kuliah, namun terjadi saat kita sudah sama-sama bekerja. Jarak tempat tinggal ke kantor kira-kira memakan waktu 1,5 jam – 2 jam. Banyak yang kita bicarakan, aku sangat menikmati ketika ia memutar CD System of A Down. Setelah cukup sering berinteraksi dengannya, barulah aku sadari bahwa aku tidak cocok dengannya. Banyak hal-hal yang sebenarnya bertentangan. Aku mulai tidak menyukainya.

Setelah lulus kuliah, aku menyukai teman satu jurusan. Semasa kuliah aku tak pernah melihatnya sebagai seseorang yang istimewa. Hal ini aku rasa malah ketika kita sudah lulus, sehingga kesempatan bertemu dengannya sangat jarang sekali. Ketika masa ospek, pria ini pernah mengirimku pesan, menanyakan hal-hal berhubungan dengan ospek, padahal aku belum pernah bertatap muka dengannya sebelumnya. Mengapa aku baru menyukainya ketika lulus kuliah? Kenapa tidak pada awal semester ketika ia memilih aku (diantara mahasiswa baru lainnya) untuk ditanyai (atau mungkin basa-basi) mengenai ospek? Suatu peluang untuk bisa mencuri hatinya. Beberapa bulan yang lalu aku (akhirnya) pernah ngobrol hanya berdua dengannya di suatu warung kopi. Banyak hal yang menurutku kita sama, namun ketika ngobrol aku tidak menemukan keseruan itu. Seharusnya bila dilatar belakangi banyaknya kesamaan, maka obrolan akan seru, timpang-tindih, kenyatanya berbeda. Atau karena aku gugup, sehingga jurus-jurusku mendekati pria tenggelam hingga perut bumi? Entahlah, aku mulai realistis. Tidak mengkhayalkannya lagi.



Dan begitulah ceritaku malam ini.

Aku sudah berada di kamar dari ceritaku pada bagian SMP, sekarang pukul 22.43. Tidak mendengarkan lagu apapun. Aku mengetik di atas kasur dengan beralas sprei bendera Amerika. Sesekali memandang jendela yang berada di sisi kiri ku Semoga lelah karena bercerita ini bisa membuatku tertidur cepat malam ini. Sekian.


Rabu, 29 Oktober 2014

Nganu

Senin, 27 Oktober 2014

Saya bangun kesiangan karena baru terlelap sekitar pukul 2 dini hari. Saya berjalan terhuyung menuju kamar mandi lalu membelokkan keran dan membiarkan air memenuhi ember. Kembali duduk termangu di ujung tempat tidur, membersihkan kotoran mata dan menggaruk pantat yang hanya berlapis celana dalam berwarna hijau stabilo. tak lupa memutar lagu dari handphone. Kalau bukan lagu One Way Trigger-nya The Strokes, ya paling Good Morning Freedom-nya Blue Mink. Tak lama aliran air berhenti. Ember baru terisi setengah. Niat untuk keramas saya urungkan (padahal hari Minggu saya tidak keramas). Mandi tidak terasa menyegarkan pagi itu. Saya berangkat tanpa membawa handphone karena lupa. Pukul 7 lewat saya baru dapat kereta, setelah 4 kereta saya lewatkan. Pertama karena saya masih keasikan dengan buku saya sehingga enggan untuk beranjak, yang kedua dan tiga karena kereta terlalu penuh. Sampai di Manggarai, rasanya saya ingin ke toilet untuk mandi. Tapi tidak jadi.
Sesampai dikantor saya menggunakan make up yang tidak biasa yaitu eye shadow. Saya ingin terlihat gothic hari itu. Karena 'kaca hijau' yang jadi andalan satu divisi tiba-tiba hilang, saya pun meminjam handphone Elvi (tetangga seperkubikelan) untuk bercermin dengan menggunakan kamera depannya. Karena menurut saya mata saya terlihat bagus maka saya pun mengabadikannya, lalu mengirim foto itu via whatsapp ke kontak saya. Setelah sukses terkirim, saya pun menghapus foto tadi lalu mengembalikan handphona.

Lalu

Tiba-tiba, Elvi panik... foto-fotonya sebanyak 1500an lenyap.
Ternyata....
Saya bukan men-select foto saya.....
Saya men-select satu album photo.....
Seribu lima ratus lebih foto-foto Elvi dengan semilyar kenangan hilang karena saya....
...
...
..
.
Saya sudah lama tidak merasakan rasa sebersalah dan sesial hari itu.
***

Rabu, 29 Oktober 2014
Pagi itu saya merapikan folder-folder di laptop saya. Lalu men'disk-clean up' local disk C
Lalu
Tiba-tiba Local disk C saya berkurang sebanyak 128Gb
Saya pun teringat...
Bahwa...
File-file saya simpan di C karena di D sudah penuh.
File kerjaan, lagu-lagu favorit, film dan series semua lenyap....
....
...
...
..
.
Apa saya bilang, saya adalah orang yang sangat dekat dengan karma.

Lega. Lega dalam hiasan maupun harfiah. 

Minggu, 09 Februari 2014

3,1415926535897932384626433832795028841971693993751058209749445923078164062862089986280348253421170679.... (ini saya dapat dari google, bukan asal ketik angka)

MINDFUCK!
Kata yang tepat untuk mendeskripsikan apa yang sedang saya alami saat ini. Membuat gambar lingkaran dengan sempurna saja saya harus mengulang setidaknya 5-7 kali. Maximillian Cohen benar-benar membuat saya ber"Oh Shit!"-ria (mungkin lebih tepatnya untuk Darren Aronofsky, sang sutradara). Oke oke seharusnya saya gak langsung ngerocos tentang apa yang terjadi dengan otak saya sekarang. Kita mulai dari awal.




Film Pi, bukan Life of Pi. Film hitam-putih ini mengandung 70% percakapannya mengenai matematika. Spoiler dikit, film ini tentang Maximillian Cohen yang mencari tahu pola dari angka Pi, yang ujung-ujungnya ia mendapatkan 216 angka yang ternyata berhubungan dengan nama Tuhan untuk kaum Yahudi. Jangan tanya saya apa hubungannya Pi dengan Yahudi, saya tidak mengerti matematika, tidak pula dengan Yahudi (di film ini sih dijelaskan apa hubungannya). Angka-angka dari Maximillian Cohen ini, juga berhubungan dengan bursa saham, sehingga ia diteror oleh sekelompok orang jahat yang ingin memanfaatkannya. Tahu apa endingnya? Max mem-bor kepalanya sendiri untuk bisa berhenti dari kepusingannya ngurusin angka-angka Pi, benaran pake mesin bor lho. Maaf ya spoiler, habis gimana lagi antusias gini mana bisa terkontrol. Jujur saya tidak mengerti betul tentang film ini, saya mulai mengikuti alurnya di atas 40 menit dari durasi film 1.24 menit.
Tenang biarpun rumit dimengerti ada 2 hal yang bisa saya ambil dari film ini. Pertama berbentuk petuah yaitu: ketika saya overthinking solusinya adalah Mandi, ini saya dapat dari salah satu tokoh bernama Sol. Kedua: SOUNDTRACKNYA KEREN! musik yang mereka pakai semacam Sigur Ros di album Von dan The Prodigy. Suka suka suka! Habis ini pasti langsung saya download. 
*OOT* Saya jadi teringat ketika saya amaze dengan film Number 23, film terfavorit sepanjang masa. Salah satu faktornya karena saya terlahir di tanggal 23, sukseslah menjadi angka favorit (lelaki yang tanggal lahirnya juga 23, bisa terlihat 3 lebih mempesona buat saya, yang ini norak dan sepele banget sih) 

kemudian tulisan ini menggantung sampai disini, karena saking gak tahunya mau komen apa lagi tentang film ini. Di kepala rasanya kalimat-kalimat tentang film ini meledak-ledak, cuma ketika saya coba ketik jadi terbaca tidak karuan. 

Sabtu, 08 Februari 2014

Another day, another sky

Saya adalah 1 dari sekian banyak orang yang antusias dengan langit. Sampe-sampe di gallery smartphone punya satu folder sendiri yang isinya langit doang. Lebih rinci lagi, saya sukanya dengan awan (gak ding bintang juga, bulan juga deh). Mungkin karena sewaktu kecil kegiatan rutin saya adalah bobok-bobok malas pake singlet sambil membuat permainan dengan diri sendiri (ternyata emang suka monolog dari kecil) yaitu meng-mirip-mirip-kan bentuk awan dengan bentuk orang atau benda.Tempat tidur saya persis disebelah jendela kamar kala itu. Kadang tidak hanya memirip-miripkan, tapi juga membuat cerita. Menyambungkan bentuk awan yang satu dengan bentuk awan lainnya. Seakan mereka bercakap-cakap, yang ujung-ujungnya pasti ada dialog "oooh tidak, angin datang lagi sebentar lagi saya akan berubah bentuk menjadi yang lain, jangan lupakan saya" kata salah satu awan pada awan lainnya yang beberapa menit kemudian membelah diri. Lalu teriakan Ibu untuk mengingatkan saya menggantungkan baju sekolah pun berkumandang menamatkan cerita awan yang saya karang (emang dari dulu anaknya gak rapi, pulang sekolah, buka baju, lalu bajunya di lempar ke pojokkan, padahal besok masih di pake). Kebiasaan ini pula yang membuat saya selalu rela berantem dengan teman/sodara untuk mempertahankan windowseat bila sedang dalam kendaraan. Norak sih keliatanya, cuma ya seru aja. Ada suatu pengalaman melihat awan yang epic banget, saya menyaksikan awan sunset di dalam pesawat ketika dalam penerbangan ke Jambi (gak se epic-banget itu sih mungkin buat kalian). Yang mau tahu ceritanya bisa di baca disini http://triasaraswati.blogspot.com/2011/01/unforgettable-flights.html. 

Ini juga yang menjadi alasan saya tidak pindah-pindah kosan, salah satunya karena kamar saya ada di lantai 3 dan tempat tidur persis berada di sebelah jendela. Kalau weekend, biasanya saya tidur siang "di-nina-bobo-kan" dengan melihat awan, pake sunglasses dulu dong tentunya, silau gila. 

Kalau saya lihat Aurora Borealis, bisa mati berdiri saking senengnya kali ya. 

Baiklah, saya akan memaparkan sebagian koleksi gambar awan yang telah saya abadikan. Hanya beberapa dari total 1323 gambar dari folder yang saya beri nama "Another day, Another Sky" (dulu sempet bikin campaign ini di Instagram, tapi mbok ya kesannya saya perempewi galau gitu ya moto-motoin awan)

Ini saya ambil di kapal menuju Pulau Harapan, saya berada di tengah awan mendung dan awan cerah. 
Ini di Jimbaran, awannya gede banget.
Judulnya "In the middle of nowhere". Saya ada ditengah-tengah awan, ngarepnya sih pake baling-baling bambu tapi kenyataannya saya duduk dikursi pesawat menuju Surabaya

Di Padang, mereka kayak lagi sibuk mengatur-ngatur biar hujan yang keluar setelahnya turun dengan dramatis 

Di Jalan Tol dari Jakarta Timur menuju Depok. Lampu jalan seakan giwangnya awan-awan berjenis kelamin wanita :3

Oia, ada satu lagi yang epic sih,  di Bali kemarin saya melihat awan hujan  dari kejauhan. Di tempat yang saya injaki sih gak ujan, tapi saya smartphone saya daya batreinya habis. Ini gambarnya saya kasih, biar bisa langsung kebayang senenngnya saya kali itu, ijin nyomot ya mbah google

Saya lihatnya juga di pantai, 11-12 sama gambar ini deh. 

Wes, segitu aja cerita kali ini. Bye bye!